Komparasi Daihatsu Sigra, Datsun GO + Panca, Toyota Calya

0

Ulasan

Kompetisi paling  panas

Inilah segmen pasar yang sedang naik daun saat ini 

mobilmotor.co.id – Sejak bertahun-tahun lalu, segmen pasar people carrier atau mobil dengan daya angkut banyak (untuk penumpang dan barang) masih tetap menjadi gula manis dalam pasar otomotif Indonesia karena memang selalu menarik bagi konsumen untuk memilikinya. Itu sebabnya, banyak pabrikan mobil yang berbondong-bondong menawarkan produk yang kompetitif saat mereka memasuki segmen pasar people carrier ini.

Selain segmen pasar MPV 7 seater yang “biasa”, belakangan berkembang MPV 7 seater di segmen pasar LCGC. Awalnya, MPV 7 seater di segmen pasar LCGC dirintis oleh Datsun melalui GO+ yang dirilis pada 2014. Kemudian pada 2016, Daihatsu dan Toyota kembali berkolaborasi untuk menghasilkan Calya dan Sigra, mengulang hal serupa yang mereka lakukan saat meluncurkan Avanza-Xenia, Terios-Rush dan Agya-Ayla. Sejatinya, sebagai pendatang baru yang hadir terlambat dalam sebuah pesta, tentunya ada sesuatu yang ditawarkan oleh duet kembar Calya-Sigra sebagai upaya guna mengalihkan perhatian konsumen yang mungkin saja telah berminat meminang  GO+ agar bersedia pindah ke lain merek.

Menilik kompetisi tersebut, tidak salah  kalau segmen pasar LCGC MPV 7 seater menjadi trending topic yang paling panas saat ini. Maklum saja, selain harganya memang paling terjangkau sesuai dengan kondisi daya beli konsumen saat ini, produknya sendiri juga menawarkan fitur yang rata-rata tidak dimiliki oleh kendaraan lain dan tidak lupa faktor utilitas yang tinggi untuk memenuhi berbagai kebutuhan para pemakainya.

Ketiga mobil pengangkut penumpang non-sedan (people carrier) ini memang menjadi  favorit  konsumen  yang memiliki  anggaran relatif terbatas untuk pembelian kendaraan. Terlebih  lagi ketiganya bisa dianggap  sebagai kendaraan  yang mengerti kondisi konsumen. Sebagai contoh, harga  mobil-mobil ini di bawah  Rp 200 juta sehingga  relatif terjangkau oleh mayoritas konsumen. Dalam kondisi ekonomi yang relatif sulit  saat ini,  daya beli konsumen juga menurun sehingga segmen pasar  di bawah Rp 200 juta menjadi  paling gemuk  penjualannya.

Dari sisi lainnya, ketiga pengikut LCGC  ini menawarkan biaya servis yang relatif kompetitif mulai  biaya perbaikan, biaya perawatan  dan biaya suku cadang, ketiganya  relatif terjangkau. Ongkos kerja di bengkel relatif tidak terlalu mahal. Begitu pula harga suku cadang Daihatsu, Datsun dan Toyota  terkenal kompetitif  dan tersedia di mana saja  sehingga   tidak menyusahkan konsumen pemakainya.

Tentu saja, segenap kelebihan  tersebut menjadi  daya tarik tersendiri bagi kalangan konsumen lain yang memiliki keinginan untuk memakai mobil ini sebagai taksi online yang melayani jasa antar jemput penumpang maupun barang. Terlebih melihat keunggulan kompetitif dari segi harga, efisiensi bahan bakar, biaya servis dan nilai keserbagunaan tinggi. Salah satu faktor  yang menjadikan  ketiganya memiliki nilai jual tinggi  terletak pada aspek utilitas  untuk membawa penumpang hingga maksimal 7 orang dan   membawa  barang.

Pada komparasi kali ini, hanya Datsun GO+ yang masih tampil konvensional dengan transmisi manual 5-speed, sementara para pesaingnya (Calya dan Sigra) sudah menawarkan transmisi otomatis 4-speed. Tentunya kondisi ini lambat laun akan mendorong Datsun untuk segera melakukan penyempurnaan GO+ secara berkelanjutan semisal menambahkan transmisi otomatis atau memberikan fasilitas AC ekstra  (double blower atau blower). Selain itu, volume kabin dan konfigurasi kursi akan menjadi faktor penilaian tersendiri bagi konsumen.

Sebaliknya, bagi Calya dan Sigra, kompetisi ini juga akan menandai babak baru, apakah kedua duet tersebut akan mampu bersaing secara sehat melawan pesaingnya? Atau justru kehadiran kedua produk kembar tersebut akan menyebabkan rivalitas baru di kalangan internal mereka? Katakanlah, apakah kehadiran Sigra 1,0 liter nantinya akan menyebabkan Xenia 1,0 liter menjadi tergeser? Atau sosok Calya akan menjadikan Avanza 1,3 liter menjadi kurang laku?

Daihatsu Sigra

Pendatang baru di segmen LCGC MPV 7 seater ini sejatinya dikembangkan dari mobil konsep Daihatsu UFC yang pertama kali tampil dalam gelaran IIMS 2014 silam. Sedangkan  platform-nya memanfaatkan hasil kolaborasi duet kembar Agya-Ayla. Uniknya, sosok Sigra  terkesan  sebagai  miniatur Daihatsu Xenia generasi ke-2 yang terlihat melalui grille   yang  sangat mirip dengan saudara satu rumah itu.   Sementara  dari sisi samping, Sigra terlihat manis dengan  kaca belakang yang  berbentuk serbakotak  dan pilar B maupun  C yang berwarna hitam.

Desain  interior terkesan   sederhana dengan  sentuhan  2 warna yang terasa lembut dan teduh di mata. Kursi  dilapisi  bahan fabric berwarna gelap yang berperan mengurangi risiko cepat kotor. Satu hal unik yang ditawarkan Sigra adalah penempatan tuas rem parkir di konsol tengah yang terinspirasi cockpit pesawat terbang untuk memaksimalkan kelegaan  kabin. Selain itu,  tersedia  sandaran tangan depan yang bisa difungsikan sebagai sandaran kursi sehingga kursi depan bisa dihuni  oleh 3 orang penumpang dengan konfigurasi  2+1. Untuk penumpang depan, tersedia kursi model bucket dengan sandaran kepala yang menyatu bersama sandaran punggung. Sedangkan kursi tengah dan belakang memiliki sandaran kepala yang terpisah dengan sandaran punggung. O ya, sandaran kepala kursi belakang dibuat memanjang sehingga terasa nyaman.

Masih seputar kabin dan interior,  kompartemen simpan yang tersebar pada berbagai lokasi  menjadi nilai jual yang  penting bagi konsumen  Daihatsu Sigra. Selain laci di dashboard, juga tersedia bottle holder di panel pintu depan dan belakang yang memudahkan  penumpang  untuk meletakkan  botol minuman. Ruang  bagasi di belakang kursi baris ketiga  boleh disebut  cukup luas, sehingga mampu memuat  tas punggung  atau koper kecil.

Daihatsu Sigra  dibekali dengan mesin 3NR-VE, 4 silinder DOHC 16 katup Dual VVT-i berkapasitas 1.197 cc yang  mampu menghasilkan tenaga  88 hp dan  torsi  108 Nm yang dianggap sudah cukup  untuk memenuhi kebutuhan para pemakainya.  PT Astra Daihatsu Motor (ADM) selaku APM Daihatsu juga menyediakan  Sigra bermesin 1,0 liter sehingga konsumen punya alternatif selain  Xenia 1,0 liter. Mirip mesin modern lainnya,  mesin 1,2 liter dilengkapi dengan sistem electronic throttle sehingga membutuhkan adaptasi tersendiri  karena ada delay antara pijakan pedal gas dan respons mesin. Karakter tersebut bisa dirasakan pada varian Sigra dengan transmisi otomatis 4-speed yang memang mengharuskan pengemudi untuk melakukan kickdown jika membutuhkan akselerasi yang lebih responsif.

Plus
Harga, suspensi, efisiensi

Minus
Performa, audio, fitur

Spesifikasi

Harga                 Rp 106,6 juta – Rp 147,35 juta
Dimensi             (P/L/T, mm) 4070 x 1655 x 1600
Wheelbase (mm)             2.525

Mesin
Tipe                  I-4 DOHC 16 katup Dual VVT-i
Kapasitas (cc)            1.197
Tenaga (tk/rpm)         88/6.000
Torsi (Nm/rpm)             108/4.200
Transmisi manual         5-speed/otomatis 4-speed

IMG_6930_ok IMG_6933   IMG_7015IMG_7006 IMG_7013IMG_7011

Datsun GO + Panca

Di antara produk LCGC, Datsun GO+ Panca tergolong menjadi pelopor MPV 7 seater di segmen tersebut. Itu sebabnya,  GO+ menjadi  pelopor LCGC dengan kapabilitas angkut  hingga 7 orang penumpang. Tapi sebelum Anda berpikir  terlalu jauh soal daya angkut penumpang,  harap dipahami kalau  GO+ bukanlah  MPV dengan kapabilitas 7 penumpang  sejati. Lebih tepat kalau GO+ disebut MPV dengan kategori 5+2.  Sebab,  GO+  disiapkan untuk mengakomodasi  5 orang penumpang plus volume bagasi sebesar 354 liter.

Untuk menampung hingga 7 orang penumpang,  Datsun menerapkan  kursi  belakang  yang bisa ditempati  2 orang penumpang non dewasa. Maksudnya,  kursi tersebut  hanya cocok dihuni oleh penumpang yang tergolong anak-anak. Berbekal konfigurasi 5+2, Anda bisa memanfaatkan GO+  dengan 2 cara. Pertama, mengangkut  5 orang penumpang dan  ruang bagasi terisi penuh. Kedua, membawa 7 orang penumpang  tanpa ada ruang bagasi yang tersisa untuk barang bawaan. Alhasil, jangan terlalu memaksakan untuk berlibur bersama keluarga beramai-ramai dengan GO+. O ya, ruang simpan di mobil ini relatif minim sehingga Anda perlu menyiasati sedemikian rupa semisal memasang rak gantung di sandaran kursi untuk meletakkan barang-barang yang dibutuhkan selama perjalanan.

Di sisi lain, kualitas pengendaraan GO+ layak mendapatkan pujian.  Tampaknya, Datsun berhasil memaksimalkan  hal-hal yang dianggap penting  untuk mobil kelas LCGC. Posisi mengemudi termasuk yang ergonomis di antara para rival sekelas. Yang unik,  tuas rem tangan  model payung yang terkesan “old school” ternyata  terasa nyaman saat dioperasikan. Penempatan tombol kontrol diatur sedemikian rupa sehingga memperhatikan aspek ergonomika pengemudi atau operator secara optimal.

Sebagai anggota LCGC, peredaman suspensi tergolong cukup baik dengan karakter medium. Boleh disebut tidak terlalu empuk, tapi juga tidak  keras. Kinerja suspensinya terasa   lebih mantap  jika dibandingkan dengan Toyota Avanza yang keluar pertama kali.  Pengendaliannya biasa saja  karena penggunaan ban dengan profil relatif tebal memang  untuk  mengangkut penumpang dan barang.

Fitur yang ditawarkan oleh GO+  memang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Perangkat   sistem audio tersedia dengan opsi docking untuk telepon seluler sehingga tidak perlu repot membawa-bawa kepingan CD. Namun  kehadiran sensor parkir, alarm, MID dan takometer digital menjadi sajian tersendiri yang wajib mendapatkan apresiasi.

Mesin HR12DE 3-silinder 1,2 liter serupa dengan yang dipakai March mampu memberikan kesenangan tersendiri saat mengemudikan GO+  di perkotaan. Torsi relatif besar pada putaran bawah dan transmisi manual dengan gear ratio  yang cenderung rapat  membuat  GO+  terasa responsif. Injak sedikit pedal gas di 2.000 rpm membuat  GO+  melesat cepat  tanpa hambatan. Tetapi  di atas 4.000 rpm performaa mesin  menurun dan terasa datar. Konsumsi bahan bakarnya cukup efisien. Sayangnya belum ada opsi transmisi otomatis hingga saat ini, sedangkan pesaingnya sudah menawarkan kenyamanan tersebut.

Plus
Responsif, efisiensi, fitur

Min
Noise, kursi belakang

Spesifikasi

Harga                                       Rp 94,6 juta – Rp 118,45 juta
Dimensi (P/L/T, mm)         3995 x 1635 x 1490
Wheelbase (mm)                   2.450

Mesin
Tipe                                         I-3 DOHC 12 katup
Kapasitas (cc)                       1.198
Tenaga (tk/rpm)                  68
Torsi (Nm/rpm)                  104
Transmisi                            manual 5-speed

IMG_7347 IMG_7349 IMG_7346_ok IMG_7352 IMG_7355 IMG_7351

Toyota Calya

Toyota Calya yang menjadi produk terbaru hasil kolaborasi Daihatsu Toyota menawarkan akomodasi yang cukup baik untuk  7 orang penumpang, kira-kira setara dengan Avanza.  Bangku baris kedua  bisa digeser maju mundur untuk memberikan “kenyamanan” bagi penghuni kursi belakang. O ya, bangku belakang menganut model  bench seat (bukan 50:50) yang bisa dilipat penuh ke depan untuk memaksimalkan ruang bagasi. Andai kursi belakang tidak dilipat, tersisa ruang bagasi yang mampu memuat 3-4 galon air minum berkapasitas @ 19 liter.

Sebagai pengikut skema LCGC, tentunya Calya menerapkan pakem menekan harga melalui pemilahan fitur standar untuk interior. Namun Toyota cukup piawai memainkan kesan psikologis mobil berharga murah dengan menempatkan sejumlah panel untuk menciptakan atmosfer bukan mobil murahan. Misalnya, melapis kursi dengan bahan fabric berwarna coklat dan panel pintu dengan warna serupa. Lalu  sistem audio yang relatif sederhana dengan pilihan 1 DIN atau 2 DIN sesuai varian mobilnya.
Mengingat kabin yang cukup besar, maka disediakan fasilitas blower udara  yang terpasang di bagian atap untuk mengalirkan hawa sejuk dari kabin depan menuju kabin belakang. Perangkat ini hanya memiliki tombol on dan off tanpa disertai pengaturan kecepatan hembusan udara sehingga bisa disebut mirip “kipas angin”. Alhasil, perangkat  tersebut  bukanlah sistem AC double blower yang biasa terpasang pada MPV lainnya.

Pada ruang kerja  pengemudi, terlihat tuas transmisi yang terletak di dasbor serta sandaran tangan yang bisa digunakan bergantian oleh pengemudi dan penumpang depan. Penerapan tuas transmisi di dashboard berperan memperluas ruang kaki bagi para penghuni kursi depan. Selain itu, tuas rem parkir diletakkan di bawah sandaran tangan tersebut, bentuknya mirip tuas throttle pada pesawat terbang. Penempatan tuas transmisi di dashboard dan tuas rem parkir di bawah memberikan ruang gerak yang lebih baik.

Serupa Sigra, Calya juga memakai mesin yang sama, 4 silinder berkapasitas 1,2 liter dengan dukungan fitur Dual VVT-i dan electronic throttle. Mesin tersebut disandingkan bersama transmisi manual 5-speed yang responsif dan transmisi otomatis 4-speed yang praktis. Mana yang Anda pilih? Sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Yang jelas, kehadiran Calya langsung membuat peta kompetisi di segmen MPV 7 seater LCGC berubah secara signifikan. Apakah Calya mampu menggeser GO+ atau sekalian menggoyang penjualan saudaranya?

Plus
Minus

Spesifikasi

Harga                                    Rp 132,45 juta – Rp 150 juta
Dimensi (P/L/T, mm)         4070 x 1655 x 1600
Wheelbase (mm)                  2.525

Mesin
Tipe                                       I-4 DOHC 16 katup Dual VVT-i
Kapasitas (cc)                     1.197
Tenaga (tk/rpm)                88/6.000
Torsi (Nm/rpm)                 108/4.200
Transmisi                            manual 5-speed/otomatis 4-speed

IMG_7042_ok IMG_7034 IMG_7031 IMG_7024 IMG_7006_1 IMG_6999_ok

Kesimpulan

Daihatsu Sigra

Anggota baru dalam kolaborasi duet kembar Daihatsu-Toyota ini menjanjikan pilihan yang berbeda dengan sang pemain tunggal yang selama ini mendominasi segmen LCGC MPV 7 seater. Tak lain tawaran transmisi otomatis 4-speed menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang tinggal di kota-kota besar dan berhadapan dengan kondisi lalu lintas yang macet dan  stop and go. Tinggal melihat respons pasar terhadap produk baru ini, apakah mampu bersaing melawan rival lain merek atau justru terjadi kompetisi internal.

Datsun GO + Panca

Datsun GO+ menjadi pelopor MPV 7 seater di segmen LCGC. Setelah sekitar 2 tahun menjadi pemain tunggal, tiba saatnya bagi GO+ untuk berkompetisi secara sehat dengan para rivalnya yang hadir dari program duet kembar Daihatsu-Toyota. Walau belum tersedia dengan  opsi transmisi otomatis, GO+ tetap     menjadi salah satu alternatif yang menarik di segmen MPV 7 seater LCGC.

Toyota Calya

Sang penantang yang berasal dari  kolaborasi  Daihatsu-Toyota jilid ke-sekian ini menjanjikan beberapa hal menarik untuk membedakannya  dengan saudaranya dan tentu saja sang pemain tunggal yang memimpin penjualan di  segmen pasar LCGC MPV 7 seater. Menu transmisi otomatis 4-speed dan kabin lapang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang sering berhadapan dengan kemacetan dan membutuhkan interior lebih besar untuk membawa penumpang dan barang. Sangat boleh jadi, Calya akan menjadi favorit baru bagi para konsumen yang ingin menjadikannya sebagai taksi online.

Read more:
Marquez_Sepang-sesion1_01
Marc Marquez Akhiri Kerjasama dengan Merek Apparel Rossi

mobilmotor.co.id Barcelona – Insiden yang melibatkan pebalap papan atas Moto GP, Valentino Rossi dan Marc Marquez dalam balapan di Sepang,...

Close